Senin, 23 Mei 2011

LESTARIKAN TRADISI, UNESA SIAP MENYONGSONG GLOBALISASI



Picture taken from:iamdluhansa.com
Setiap hari, jam, menit, dan detik berlalu dengan cepat. Begitu pula informasi dan komunikasi yang juga berjalan cepat dan tepat. Inilah yang disebut era globalisasi, suatuera yang menjadikan kompetisi seakan menjadi hal hakiki. Pada era ini ada dua tantangan yang perlu diwaspadai yaitu menipisnya jaringan sistem ekonomi dan politik yang terintegrasi dalam suatu kawasan dan menipisnya batas geopolitik antarbangsa yang dipicu oleh perkembangan teknologi dan komunikasi yang canggih.

Dengan berbagai potensinya, Unesa diharapkan bisa menghadapi dua tantangan itu. Potensi-potensi Unesa itu juga perlu ditumbuhkembangkan seperti kepemilikan enam kampus yang terdiri atas kampus Ketintang, Lidah Wetan, Gedangan, Dharmahusada, Teratai, dan Kawung. Selain itu sarana dan prasarana yang ada di Unesa juga tergolong lengkap. Sarana dan prasarana itu terdiri atas ruang laboratorium, perpustakaan dengan layanan jurnal on-line, bahkan Unesa juga punya sarana-prasarana olahraga bertaraf nasional dan internasional. Selain itu masih banyak potensi lain yang dapat ditumbuhkembangkan universitas yang berkomitmen menuju World Class University (WCU) ini.

Unesa juga harus mampu meraih kesempatan emas yang ada di depan mata. Dengan sigap Unesa juga harus meraih opportunity itu antara lain kebijakan Dikti yang memberlakukan hibah kompetisi untuk meraih dana dari pemerintah yang memberikan Unesa berpeluang bagi Unesa untuk berkompetisi di tingkat nasional guna pengembangan diri. Hal ini juga didukung dengan semakin meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap Unesa yang memberikan peluang bagi universitas LPTK ini dalam memantapkan tridarmanya. Selain itu akan diberlakukannya program-program sertifikasi bagi pengajar di tingkat pendidikan dasar dan menengah juga memberikan peluang bagi Unesa untuk berperan sebagai lembaga sertifikasi yang ditunjuk oleh pemerintah. Peluang-peluang lain juga akan terus ditangkap Unesa untuk memantapkan keberadannya.

EMPAT TRADISI UNGGUL UNESA

Berdasarkan Renstra Unesa 2005-2015 ada empat tradisi yang menjadi dasar pengembangan dan perencanaan Unesa pada masa depan. Empat tradisi itu adalah keunggulan kependidikan (meliputi unggul dalam pengelolaan dan penyelenggaraan pendidikan secara mandiri, transparan, dan akuntabel, unggul dalam penelitian dan implementasi pengembangannya, unggul dalam pengembangan pendidikan dan non-kependidikan di bidang Ipteks, unggul dalam bidang pengembangan pendidikan dasar dan menengah, dan unggul sebagai pembaharu dalam dunia pendidikan); keunggulan kerja keras; keunggulan akademi dan ketenagaan; serta keunggulan sosial kemasyarakatan madani.

Menurut Pembantu Rektor II, Dr. Nurhasan, M.Kes. sarana dan prasarana pendukung telah banyak disediakan dalam peningkatan kualitas pendidikan diantaranya dengan peningkatan kualitas laboratorium, pengembangan buku ajar, modul-modul pembelajaran, pengembangan model pembelajaran, serta pemembangat IT dalam proses belajar mengajar. Selain itu keunggulan pendidikan yang meliputi empat hal yang telah disebutkan di atas juga telah dikembangkan sarana dan prasarananya.

Untuk meraih keunggulan kerja keras, pria berperawakan tegap ini berkata, “Bukan hanya kerja keras namun juga cerdas. Civitas akademika Unesa harus mau bersyukur, sabar, dan ikhlas dalam membangun Unesa lebih baik. Dengan slogan REKK (rasional, energik, kreatif dan kompetitif), mereka diharapkan mampu menghadapi berbagai situasi. Rasional artinya setiap sivitas akademika harus mampu berpikir rasional dalam semua hal, energik berarti sehat jasmani sehingga bisa melakukan berbagai kegiatan, kreatif artinya membuat inovasi atau terobosan baru, dan kompetitif yang berarti civitas akademika Unesa mampu dan berani menghadapi kompetisi baik di kancah nasional maupun internasional,”jelasnya.

Dalam Keunggulan akademik dan ketenagaan merupakan sebuah komitmen bersama karena secara resmi dalam statuta Unesa ditegaskan bahwa Unesa sebagai institusi dengan multi misi (multi-mission institution). Namun diakui oleh pria murah senyum ini bahwa “Dalam hal ini Unesa masih belum maksimal, namun ke depan layanan terhadap civitas akademika unesa akan lebih ditingkatkan,” sambungnya.

Keunggulan dalam sosial kemasyarakatan madani dibuktikan dengan kentalnya nuansa kebersamaan, kekeluargaan, keagamaan, dan kependidikan sejak universitas ini masih bernama IKIP Surabaya. Dalam hal ini civitas akademika Unesa harus bersama-sama mengembangkan citra Unesa, bersama-sama menyejajarkan diri dengan universitas-universitas yang sudah mapan.

UNESA SIAP HADAPI HAMBATAN DAN TANTANGAN

Ada banyak tantangan dan hambatan yang harus dijalani ketika seseorang ingin maju, begitu juga dengan Unesa. Tantangan dan hambatan itu seperti pelecut Unesa untuk maju, berkarya, dan lebih baik. Contoh hambatan-hambatan itu seperti gedung yang sudah tua, sumber belajar yang berbasis multimedia masih kurang, layanan kepada stakeholder yang berupa layanan administrasi umum dan akademik belum sepenuhnya memanfaatkan teknologi informasi komunikasi elektronik dan beberapa hambatan lain.

Bagi sebuah perguruan tinggi, semakin bertambahnya usia, semakin banyak tantangan yang dilalui, bagi Unesa, tantangan-tantangan itu diantaranya paradigma baru Dikti menyebabkan block grant disalurkan melalui hibah-hibah kompetisi (PHK). Berkaitan dengan kompetensi lulusan, kompetisi dengan lulusan perguruan tinggi lain semakin ketat sehingga lulusan perguruan tinggi harus memunyai kemampuan bahasa asing. Selain itu kompetisi dan persyaratan kerja di masyarakat juga semakin ketat. Berbagai tantangan lain pun muncul, yang tentunya dengan gagah berani dihadapi oleh Unesa. “Kita harus mampu menghadapi hambatan dan tantangan, dua hal itu seharusnya kita hadapi dengan ikhlas,” lanjut Pembantu Rektor II Unesa.

Akhirnya, empat tradisi tersebut harus ditumbuhkembangkan dengan kokoh di atas aset dan potensi yang dimiliki Unesa. Karena tradisi inilah yang menjadi ciri khas Unesa dengan universitas-universitas lain. Hal ini juga sebagai langkah untuk memantapkan peran Unesa di era globalisasi baik di kancah nasional maupun internasional.

(Alfanita Zuraida)

KOLABORASI SENI: Wujud Apresiasi Kreativitas Anak Bangsa

Sebagai perguruan tinggi berbasis pendidikan, sains, teknologi, dan seni, Unesa ingin menunjukkan karya-karya terbaiknya, terutama bidang seni. Kolaborasi Seni 2009 ini merupakan kolaborasi seni dari berbagai jurusan di Unesa. Acara ini dihadirkan sebagai bentuk apresiasi karya seni produk civitas akademika Unesa dan para peserta lomba. Selain itu, acara ini juga menjadi pembelajaran seni bagi para pengunjung SPI.

Tiga tari karya mahasiswa jurusan Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik) Unesa yakni Tari Payung, Merak, dan Kembang Pulus secara resmi membuka hari pertama rangkaian acara Kolaborasi Seni. Sesaat setelah itu, 132 siswa SMP-SMA se-Surabaya mulai menggerakkan tangannya di atas kertas gambar. Sore itu (23/10) guratan asa di tengah kompetisi tanpa lelah siswa peserta lomba tampak nyata. Seusai lomba, pukul 19.00 WIB, suara tabuhan gong tiga kali menggema di atrium mall terluas di Surabaya itu. Acara ini dibuka Rektor Unesa, Prof. Dr. H. Haris Supratno. Dalam pidato pembukaan acara berhadiah total 9 juta rupiah ini, Rektor mengatakan bahwa kolaborasi seni merupakan sebuah wadah bagi mahasiswa untuk meningkatkan potensi di bidang seni. Pak Haris (panggilan akrab Rektor Unesa, red.) juga menambahkan bahwa seni dapat dikembangkan dan menghasilkan uang.

Kolaborasi Seni pada (23-25/10) ini menggelar lomba lukis, lomba tari, demo produk unggulan Unesa seperti produk busana, boga, rias, seni rupa, teknologi pendidikan, poster, dan foto majapahit. Selain itu juga disajikan pagelaran seni drama, tari, dan musik mahasiswa Unesa. Lomba lukis bagi siswa SMP/SMA itu dimenangkan Nancy Elisabeth (SMPK Petra 5 Surabaya) sebagai juara I, Linda Dwi P. (SMPN 18 Surabaya) sebagai juara II, dan Gita F. E. (SMPN 1 Tuban) sebagai juara III. Lomba tari dimenangkan oleh Sanggar Tari Gita Maron Surabaya sebagai juara I, SMKN 9 Surabaya sebagai juara II, dan Sanggar Tari Sangra Lakshta Mojokerto sebagai juara III.

(Alfanita Zuraida)

Teladani Jiwa Kepahlawanan, Giring Unesa menuju WCU


Picture taken from: unesa.ac.id
Sepuluh November setiap tahunnya selalu diperingati sebagai hari pahlawan, dalam acara tahunan ini banyak acara disuguhkan untuk menyemarakkannya seperti upacara, gerak jalan, dan karnaval. Namun itu hanya sebatas even untuk mengenang jasa-jasa pahlawan. Lantas, adakah hal nyata yang membuat kita sebagai sivitas akademika Unesa meneladani apa yang sudah diperjuangkan oleh para pahlawan itu sehingga jasa-jasa pahlawan tidak hanya sebagai kerangka sejarah yang segera dilupakan dan dibuang ke dalam selokan lahat yang gelap?

Banyak istilah pahlawan yang beredar di masyarakat. Mulai dari pahlawan revolusi, pahlawan pergerakan, pahlawan nasional, sampai pahlawan tanpa tanda jasa yang disematkan pada guru. Pada zaman pergerakan, Rektor Unesa, Prof. Dr. H. Haris Supratno mendefinisikan pahlawan sebagai pejuang gagah berani, panglima perang yang berjuang dalam peperangan untuk membela bangsa dan tanah airnya dengan mengorbankan segenap jiwa dan raganya. Dalam konteks kekinian, orang nomor satu di Unesa ini mendefinisikan pahlawan sebagai orang yang menonjol di bidang tertentu karena keberaniannya dalam berkorban untuk memperjuangkan kebenaran.

Pak Haris (panggilan akrab Rektor Unesa, red.) mengatakan “Tidak mudah ketika seseorang disebut sebagai pahlawan. Beberapa kriteria harus dipenuhi ketika atribut pahlawan disematkan pada seseorang di antaranya, yang pertama seorang pahlawan harus memunyai jiwa keberanian untuk membela kebenaran. Selain itu keperkasaan juga menjadi salah satu kriteria ketika seseorang disebut pahlawan, keperkasaan yang dimaksud adalah keperkasaan dalam hal fisik dan semangat. Pahlawan sejati juga harus memunyai rasa rela berkorban baik jiwa, raga, maupun harta yang dimiliki. Pengorbanan itu juga harus dilakukan dengan tulus ikhlas tanpa pamrih,” jelas pria murah senyum ini.

Jabatan, kedudukan, dan harta seseorang bukan merupakan dasar seseorang disebut pahlawan, semua itu hanya efek ketika seseorang berjuang tanpa pamrih demi sesuatu. Dihubungkan dengan jasa dan prestasi, dua hal tersebut juga bukan merupakan tolak ukur untuk seseorang disebut sebagai pahlawan. Belum tentu semua orang berjasa dapat disebut pahlawan, sedangkan dalam prestasi, Unesa sangat menghargai prestasi sivitas akademikanya namun ini juga bukan merupakan sebuah tolok ukur seseorang dapat dikatakan sebagai pahlawan.

Pahlawan Tak Harus Berprestasi

Banyak pameo atau ungkapan dalam penyebutan kata pahlawan, misalnya penyebutan pahlawan tanpa tanda jasa untuk guru dan pahlawan devisa negara untuk para Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di luar negeri. Kedua contoh itu hanya ungkapan, bukan pahlawan secara formal. Untuk diabadikan sebagai pahlawan secara formal inilah yang butuh proses yang panjang, misalnya ketika pada 2006 Unesa dan tim pengkaji sejarah mengusulkan Trunojoyuo sebagai pahlawan nasional. Unesa sebagai instansi pendidikan mengusulkan pria asli Madura itu sebagai pahlawan nasional kepada WaliKota Surabaya yang kemudian diteruskan pada Gubenur dan Presiden. Namun sayangnya, menurut tim Nasional, Trunojoyo masih belum bisa dikatakan sebagai pahlawan nasional karena beberapa hal.

Dalam sebuah lembaga terkadang ada juga pameo atau ungkapan tentang pahlawan, begitu pun di Unesa. Di Unesa ada istilah pahlawan Unesa yang berarti orang yang melakukan sesuatu pada Unesa seperti berjasa atau berprestasi pada lembaga. Namun Pembantu Rektor 1 Unesa, Prof. Dr. Budi Jatmiko, M.Pd berkata “Yang dapat disebut pahlawan Unesa adalah mereka yang benar-benar berjuang untuk kemajuan Unesa, menjaga citra baik Unesa, dan mengharumkan nama Unesa. Mereka pun tidak harus ada di Unesa, walaupun mereka sudah lulus atau pensiun, mereka yang menjaga citra dan nama baik Unesa merupakan pahlawan Unesa. Pahlawan Unesa juga tidak harus orang yang berprestasi, karena prestasi hanya sebuah indikator. Pengabdian yang dalam pada universitas inilah yang menempatkan orang-orang ini menjadi pahlawan Unesa,”kata pria ramah ini.

Jiwa Kepahlawanan Giring Unesa menuju WCU

Universitas Negeri Surabaya (Unesa) menuju World Class University (WCU), cita-cita ini merupakan sebuah cita-cita besar, luhur, dan mulia. Cita-cita ini tidak akan terlaksana tanpa adanya peran serta segenap sivitas akademika Unesa. Sivitas akademika Unesa harus bekerja keras tak lekang waktu, berjuang, berproses untuk menuju sebuah keinginan yang kuat. Jadi peran serta sivitas akademika akan sangat mendukung percepatan proses Unesa menjadi WCU.

Kini sivitas akademika Unesa sedang berbenah menuju WCU. Beberapa hal pun disiapkan Unesa di antaranya menumbuhkan semangat kerja keras tanpa pamrih yang merupakan jiwa dan karakter kuat seorang pahlawan sehingga citra lembaga dapat dinaikkan. Selain itu, karya monumental baik keilmuan atau sosial yang bertaraf nasional dan internasional yang merupakan salah satu ukuran suatu lembaga disebut WCU pun perlu digalakkan.

Untuk bisa lebih mengabdikan diri pada lembaga, dosen-dosen muda yang telah bergelar doktor terus didorong dapat menjadi profesor pada usia kurang dari lima puluh tahun, sehingga masa pengabdian pada lembaga relatif lebih panjang, karena usia pensiun seorang profesor, tujuh puluh tahun. Rintisan FMIPA membuka kelas internasional juga merupakan salah satu usaha Unesa dalam menuju WCU.

Dengan atribut pahlawan, seseorang bukan hanya tampil dan menjadi terkenal namun lebih dari itu sosok pahlawan sejati hanya ada pada diri mereka yang benar-benar berjuang tanpa pamrih, sosok yang hanya mendambakan kebahagian sejati dan hakiki. 

(Alfanita Zuraida)

SEBUAH KAJIAN BUDAYA: MAKNA KEMATIAN PELAKU KAMIKAZE DITINJAU DARI FILOSOFI ESTETIKA BUNGA SAKURA


Picture taken from:neckrolz.clanteam.com
Gugurnya bunga sakura menyiratkan satu pesan akan ketidakkekalan semua hal yang bersifat duniawi. Keindahan dan keagungan yang melabeli semua bentuk kehidupan duniawi tidak ada yang abadi. Hal ini seperti keindahan dan keagungan bunga Sakura yang dipandang dan dimaknai dalam filosofi Mo no Aware. Seperti yang dikatakan oleh Onhuki-Tiemey bahwa bangsa Jepang menikmati bunga sakura dengan filosofi Mo no Aware, yang menunjukkan filosofi mereka tentang bunga sakura sebagai suatu lambang keindahan yang tidak berlangsung lama.

Sakura dan filosofi Mo no Aware merupakan salah satu hal yang diungkapkan Dr. Subandi, Sp.d MA. dalam pidato ilmiahnya dalam Rapat Senat Terbuka Unesa dalam Rangka Dies Natalis 45 pada (23/12). Pidato ilmiah yang juga Kajian Budaya berjudul “Makna Kematian Pelaku Kamikaze Ditinjau dari Filosofi Estetika Bunga Sakura” itu merupakan sebuah wacana budaya yang erat kaitannya denga kondisi sosial budaya Jepang.

Pria berkacamata ini mengungkapkan bahwa para pelaku kamikaze (pasukan serangan khusus di kalangan dunia) yang rata-rata berusia muda menunjukkan kepribadian, budaya dan cara pandang orang Jepang (pelaku kamikaze)terhadap kematian. Bagi mereka mati dengan menabrakkan diri ke kapal-kapal perang musuh bukan merupakan tindakan bunuh diri tetapi langkah prajurit yang sempurna. Perbedaan dua bentuk kematian ini terletak pada kepentingan yang diemban. Bunuh diri lebih memenuhi kepentingan diri sendiri sedangkan kamikaze mengarah pada kepentingan bangsa dan negara Jepang.
Akhirnya, pidato ilmiah ini bukan untuk memaknai suatu kematian dari aspek kepercayaan atau religius karena pemaknaan ini hanya terbatas pada logika berpikir ilmiah dengan berdasarkan pada fakta-fakta duniawai yang bersifat real tanpa melibatkan unsur-unsur yang bersifat gaib. Hidup dan mati hanya milik Sang Maha Tinggi dan akan kembali padaNya. (Alfanita)

UNESA BERKOMITMEN MENUJU WORLD CLASS UNIVERSITY

Dengan adanya globalisasi, pendidikan menjadi salah suatu hal yang penting keberadaannya. Berbagai negara berlomba bahkan bersaing dalam meningkatan pendidikannya. Begitupun universitas, sebagai lembaga pendidikan juga berlomba, bergerak menuju universitas yang bukan hanya berkelas nasional tetapi juga dunia (world Class University). Sebagai universitas berkelas internasional tentunya akan banyak manfaat yang diterima oleh universitas tersebut, salah satunya adalah peningkatan kualitas dari universitas itu sendiri.

World Class University (WCU) ialah suatu ukuran yang dipakai untuk menentukan peringkat perguruan tinggi di dunia. Penentuan peringkat ini menggunakan survei yang dikenal dengan The Times Higher Education Supplement (THES), yang setidaknya 13.000 perguruan tinggi masuk dalam survei ini. Survei ini merupakan suatu survei dengan kriteria-kriteria tertentu. Adapun kriteria-kriteria tersebut ialah academic peer review dengan bobot 40 %, employer review dengan bobot 10%, faculty student ratio dengan bobot 20%, citations per faculty dengan bobot 20%, international faculty dengan bobot 5%, dan international student dengan bobot 5%. Academic peer review dilakukan dengan survei secara online yang disebar ke akademisi-akademisi di seluruh dunia. Employer review dilakukan sama seperti academic peer review yaitu dengan survei online ke para pekerja. Perbandingan mahasiswa dan pengajar, penghargaan yang diperoleh oleh para pengajar di suatu universitas, serta faktor internasional seperti banyaknya pengajar dan mahasiswa.
Di Indonesia mungkin semua Perguruan Tinggi (PT) bercita-cita agar menjadi universitas bertaraf internasional (WCU). Pemerintah pun akan giat mendorong lima puluh perguruan tinggi baik negeri ataupun swasta yang telah diseleksi untuk menuju universitas bertaraf internasional. Dan Unesa tak mau ketinggalan, universitas pencetak tenaga guru ini kini tengah berbenah dan berproses menuju WCU. Berbagai usaha pun dilakukan untuk menjadikan Unesa menjadi universitas yang terdepan, bukan hanya secara nasional tetapi juga internasional. Percepatan Unesa menjadi WCU merupakan sebuah peningkatan kualitas Unesa pada khususnya dan Indonesia pada umumnya.

UNESA LEBIH TINGKATKAN KUALITAS

Berbagai cara untuk menjadi WCU dilakukan oleh universitas yang merubah namanya menjadi Unesa di tahun 1999 ini. Menurut Rektor Unesa Prof. Dr. H. Haris Supratno ”Ada beberapa hal yang dilakukan Unesa sebagai prosesnya menuju WCU”

Dalam bidang ketenagaan, Unesa telah membuat kebijakan agar seluruh dosen yang masih berkualifikasi S1 untuk melanjutkan study ke S2. Bagi dosen yang sudah menempuh S2 dianjurkan untuk dapat ke S3. Pengambilan program study para dosen baik yang sudah S1 atau S2 harus sesuai dengan keahlian S1nya. Begitupun dengan program S3, yang harus sesuai dengan program S2nya. Kebijakan tersebut diambil dalam rangka pengembangan bidang keilmuan yang dimiliki agar setiap dosen dapat bermanfaat utuk pengembangan program studi atau jurusannya. Dosen-dosen muda pun yang telah bergelar doktor terus didorong agar dapat menjadi profesor pada usia kurang dari lima puluh tahun, sehingga masa pengabdian pada lembaga relatif lebih panjang, karena usia pensiun seorang profesor, tujuh puluh tahun.

Selain itu, rintisan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) yang kini tengah membuka kelas internasional juga merupakan salah satu usaha Unesa menuju WCU. Jurusan yang kini tengah membuka kelas internasional adalah matematika. Sebagai permulaan, kelas internasional untuk angkatan 2008 akan dibuka pada semester genap. Kelas internasional permulaan ini dinamai S1-Plus. Prosentase kelulusan yamg diberlakukan pada mahasiswa baru meliputi IPK dengan bobot 40%, kemampuan bahasa inggris 40%, ICT 15%, dan 5% untuk minat.

Peran sivitas akademika Unesa pun tak kalah penting dalam proses perubahan Unesa menjadi WCU. Sebagai pencitraan lembaga, sivitas akademika harus membuat karya monumental baik keilmuan atau sosial yang bertaraf nasional dan internasional. Dalam menaikkan citra lembaga, sivitas akdemika pun harus berjuang. Perjuangan ini tentunya perjuangan yang tak kenal lelah dan pantang menyerah, perjuangan ikhlas dan tanpa pamrih.

UNESA GAET INSTITUSI LUAR NEGERI

Kerjasama dengan institusi luar negeri adalah sebuah hal penting yang harus dilakukan ketika suatu universitas ingin disejajarkan dengan universitas-universitas yang ada di dunia. Berkaca pada universitas di luar negeri, universitas-universitas di sana sudah memiliki sarana dan prasarana yang lengkap. Dibandingakan dengan Unesa memang masih jauh. Namun, keteguhan tekad universitas yang merayakan ulang tahun ke- 45 untuk menjadi yang terdepan di tingkat dunia ini patut diacungi jempol.

Di lain kesempatan Pak Haris (panggilan akrab Rektor Unesa, red.) memaparkan bahwa salah satu langkah unesa menuju WCU adalah mengadakan kerjasama dengan berbagai institusi pendidikan di luar negeri. Bersama Tsukuba University ( Jepang), Unesa mengembangkan proses pembelajaran yang dikenal dengan lesson study. Dengan University of Pittsburgh, Amerika, USAID, dan konsorsium Rektor sejumlahLPTK, Unesa ikut serta dalam program Decentrilized Basic Education (DBE). Unesa juga mengembangkan pembelajaran matematika realistik bersama University of Utrecht Belanda dan menjadi pusat matematika realistik Indonesia pada tahun 2008.

Dalam bidang olahraga, Unesa bekerja sama dengan Beijing Sport University, China dalam mengembangkan Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK). Dalam pembukaan program pendidikan double degree bahasa mandarin Unesa bekerja sama dengan Huazhong Normal University. Kini Unesa juga sedang merintis kerja sama dengan Curtin University, Australia dalam rangka peningkatan kualifikasi guru RSBI jenjang S1 menjadi S2. Selain itu, dengan University Kebangsaan Malaysia dan Nagoya University pun Unesa Unesa menjalin kerja sama yang erat.

Pak Haris menambahkan “Untuk menjadi sebuah WCU memang sulit namun bila ada niat semua itu akan bisa terwujud,” jelasnya dalam Rapat Terbuka Senat Unesa pada (23/12). 

(Alfanita Zuraida)

UNESA MASUK PROGRAM SERATUS HARI MENDIKNAS

Unesa merupakan bagian tak terpisahkan dari dunia pendidikan Indonesia. Perkembangan kualitas pendidikan Indonesia sedikit banyak dipengaruhi peran Unesa sebagai kampus pencetak guru. Bagaimana tidak, selama 45 tahun ini Unesa telah mencetak puluhan ribu guru yang kini bertugas di berbagai pelosok negeri. Tak hanya itu, besarnya peran strategis Unesa dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan membentuk karakter bangsa dilihat Prof. Dr. M. Nuh, DEA., Mendiknas dengan melibatkan pakar pendidikan Unesa dalam program 100 hari kerja Mendiknas Kabinet Indonesia Bersatu Jilid II. Menurut Prof. Dr. Budi Jatmiko, M.Pd., Pembantu Rektor I, Unesa memiliki peran strategis dalam peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia.
Peran strategis pertama adalah meningkatkan mutu pendidikan Indonesia melalui academy recharging, yakni peningkatan kualitas dosen dengan menstudilanjutkan dosen baik di dalam maupun luar negeri. Selain itu, peningkatan manajemen institusi pendidikan tinggi melalui Program Hibah Kompetisi Institusi (PHKI), Dana Insentif Akreditasi Better Education through Reformed Management and Universal Teacher Upgrading (Dia Bermutu), dan Indonesian Managing High Education Relevance and Efficiency (IMHERE).
Kampus guru bangsa ini juga meloloskan beberapa proposal misalnya proposal Rintisan Sekolah Berstandar Internasional (RSBI), world class untuk post doctoral dan study lanjut, dan lesson study. Unesa juga dipercaya dalam Pendidikan Profesi Guru (PPG) yang berperanmemberikan pendidikan profesi guru bagi calon guru yang telah memenuhi kualifikasi S1 untuk memperoleh sertifikat pendidik. Selain Unesa juga menyelenggarakan S1 PGSD berasrama dan berikatan Dinas .
Tak ketinggalan, Unesa juga ikut aktif dalam proses sertifikasi guru baik yang guru yang berasal dari Depdiknas ataupun Depag. Dalam hal ini Unesa adalah institusi yang melakukan penilaian melalui jalur potofolio maupun pendidikan profesi. Selain itu peran yang tidak kalah penting menurut pria murah senyum ini adalah peran Unesa sebagai kampus penggagas perubahan Sistem Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) menjadi Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN), kampus prima olahraga selama tiga tahun berturut-turut (2006-2008) dan kampus yang ikut serta dalam pembuatan soal Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang bekerja sama dengan pemkap/pemkot.
Bukan hanya kualitas pendidikan yang perlu ditumbuhkembangkan, namun juga pembentukan bangsa yang berkarakter kuat. Dalam pidatonya di Gedung Serba Guna (GSG) Unesa pada (23/12), Rektor Unesa, Prof. Dr. H. Haris Supratno mengatakan “Dalam kaitannya dengan pembentukan karakter mahasiswanya, Unesa menyediakan fasilitas layanan kesejahteraan dan kerohanian yang salah satunya adalah pembinaan ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa (Agama Islam, Katolik, Kristen, dan Hindu). Pembinaan ini berbentuk Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang meliputi Unit Kegiatan Kerohanian Islam (UKKI), Unit Kegiatan Kerohanian Kristen Protestan (UK3P), Unit Kegiatan Kerohanian Kristen Katolik (UK4), dan Unit Kegiatan Kerohanian Hindu (UKKH),” jelasnya.
Akhirnya, peran Unesa dalam peningkatan pendidikan dan karakter mahasiswanya adalah sebuah bagian dari peningkatan pendidikan dan karakter bangsa Indonesia. Tanpa kenal lelah Unesa akan tetap berusaha memantapkan perannya dalam peningkatan pendidikan dan karakter bangsa karena Universitas LPTK ini memang bisa dan luar biasa.(Alfanita Zuraida)

UNESA: SEWINDU DI BAWAH KENDALI L-15

Ada seseorang di balik mobil L-15 itu
Pria ramah kelahiran Salatiga
Sewindu sudah dia berkiprah
Demi kemajuan Unesa
Ah, siapakah dia?


Prof. H. Haris Supratno adalah sosok di balik kendali mobil L-15 itu. Pria ramah dan bersahaja ini dilahirkan di kota Salatiga pada 28 Agustus 1955. Ia menamatkan Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) di Salatiga pada tahun 1969. Pada tahun 1975, ia melanjutkan sekolahnya di Pendidikan Guru Agama (PGA) di Magelang. Setelah itu fakultas syariah Universitas Islam Indonesia (UII) Jogyakarta menjadi pilihannya melanjutkan sekolah. Ia pindah ke fakultas sastra Universitas Jember (Unej) pada 1981. Ketua Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2009 ini mendapatkan gelar doktornya di Universitas Airlangga (Unair) dan gelar profesornya di Unesa.

Tak terasa sewindu sudah kampus prima olahraga di bawah kepemimpinannya. Bulan Juni ini, masa jabatannya akan berakhir, namun kiprah dan perjuangannya selama delapan tahun tak akan mungkin terlupakan begitu saja. Singsingan lengan baju dan tetesan keringatnnyalah yang membuat Unesa menjadi salah satu Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang dipandang oleh masyarakat. Kiprah dan perjuangannya tak akan lekang oleh sang waktu.

Wider Mandate di Pundak Pemimpin Baru

Saat itu, Pada 1980 sampai 1990 minat masyarakat untuk belajar di IKIP (Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Surabaya dari tahun ke tahun mengalami penurunan. Puncaknya, 1997-1998, jumlah mahasiswa hanya sekitar 6.000 mahasiswa. Anggapan generasi muda bahwa profesi guru tidak menjanjikan seperti Oemar Bakri telah melekat kuat di benak mereka. Dan itu tak lepas dari kenyataan yang ada saat itu. Wider mandate merupakan salah satu alternatif untuk mengubah citra IKIP tersebut. Dengan wider mandate IKIP diberi tugas ganda yakni untuk menyelenggarakan prodi ganda, pendidikan dan nonkependidikan.

Tahun 1999 menjadi tahun bersejarah bagi Unesa. Di tahun itulah universitas yang memenangkan lomba Kontes Robot Cerdas Indonesia (KCRI) 2009 di Jogyakarta itu mengubah namanya dari Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) menjadi Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Perubahan ini berdasarkan SK Presiden RI Nomor 93/1999 tertanggal 4 Agustus 1999 dengan sebuah kepercayaan untuk menyelenggarakan perluasan mandate (wider mandate). Nama universitas pada waktu itu disesuaikan dengan nama kota tempat IKIP itu berada sehingga IKIP Negeri Surabaya menjadi Universitas Negeri Surabaya (Unesa) karena letaknya di kota Surabaya. ”Alhamdulillah, setelah berubah menjadi Unesa, minat masyarakat untuk masuk Unesa semakin tinggi. Dari 6.000 peminat naik menjadi 8.000, 1200, 1400, 1800, 20.000, dan 24.000 peminat setiap tahun. Hal ini berakibat pada keketatan masuk Unesa, sehingga input (mahasiswa baru) yang masuk ke Unesa pun semakin berkualitas. Nilai mahasiswa baru yang masuk melalui jalur SNMPTN pun tidak kalah dengan PTN besar lainnya.” jelas rektor Unesa dua periode ini.

Sebagai universitas baru, Unesa dituntut proaktif dalam mempersiapkan rencana pengembangannya. Rencana pengembangan Unesa inilah yang ada di pundak sang pemimpin baru. Pak Haris diangkat menjadi rektor Unesa pada tahun 2002 menggantikan Prof. Toho Cholik. Saat pengangkatan Pak Haris (Panggilan Prof. H. Haris Supratno, red.) menjadi rektor, usia Unesa baru memasuki tahun ketiga. Karena itu, suami dari Ibu Endah itu pun bekerja keras untuk memajukan Unesa. “Saya mengawal wider mandate dengan penuh rasa senang, syukur, penuh tanggung jawab. Saya bekerja dengan tenang dan ikhlas, tanpa mengaharapkan imbalan materi, hanya balasan dari Allah.” tambahnya.
Tingkatkan profesionalisme Tenaga Pendidik

Murid terbaik dihasilkan oleh guru terbaik. Dari kalimat itu dapat disimpulkan bahwa profesionalitas seorang guru dapat dijadikan tolok ukur dalam kualitas pendidikan, terutama pendidikan Indonesia. Kini, semua guru dituntut untuk memiliki sertifikat pendidik yang menunjukkan seorang guru benar-benar memiliki kualifikasi seorang pendidik atau dalam pengertiannya penulis kualifikasi guru profesional. Dalam Pasal 8 UU No.14 tahun 2005 dinyatakan bahwa karakteristik seorang guru profesional adalah “Guru wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi sertifikat lulusan, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan mewujudkan tujuan pendidikan nasional”.

Prof. Dr. Soedijarto, M.A. dalam bukunya “Landasan dan arahan Pendidikan Nasional kita” memandang bahwa Guru harus memiliki empat kompetensi (kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional) sebagai sumber tolok ukur dalam dalam penilaian dan pengujian sertifikasi pendidikan, maka perlu menjadikan kemampuan: (1) merencanakan program pembelajaran; (2) mengelola proses pembelajaran: (3) menilai proses dan hasil pembelajaran; (4) mendiagnosis kesulitan belajar; dan (5) menyempurnakan program pembelajaran secara terus-menerus; sebagai wilayah yang dijadikan obyek penelitian bagi guru untuk memperoleh sertifikat pendidik.

Karena profesionalitas guru merupakan sebuah tolok ukur dalam kemajuan pendidikan Indonesia, maka sebagai LPTK yang mencetak calon guru, Unesa memiliki serangkaian kebijakan untuk mewujudkannya. Di Unesa, serangkaian kebijakan dilakukan pria dua putra ini. Kebijakan itu antara lain meningkatkan kualitas pembelajaran dengan melengkapi ruang kuliah dengan AC, media TI, komputer, laptop, dan laboratorium komputer di setiap gedung fakultas dan pasca sarjana; membekali mahasiswa dengan bahasa Inggris, kewirausahaan, dan TI; peningkatan kualitas dosen dengan study lanjut S2 dan S3, serta guru besar bagi yang sudah S3; peningkatan etika, moral, dan religi bagi mahasiswa dengan berbagai kegiatan keagamaan, baik melalui proses pembekalan dan ekstrakuler. Di tingkat nasional, Unesa juga ikut serta memperjuangkan kualitas dan kesejahteraan guru, perlindungan profesi guru melului program sertifikasi guru dan dosen. Di sini, Unesa ikut berperan sebagai penyusun undang-undang guru dan dosen.
Selaraskan Visi Unesa dan Program Kerja Rektor

Sebagai sebuah universitas, Unesa memiliki sebuah amanah yang tetap menjadikan Unesa sebagai universitas kependidikan (teaching university), dan selalu mendasarkan setiap aktifitasnya pada hasil-hasil penelitian/kajian/study kelayakan yang berkualitas (Research Based Activity). Visi Unesa dirumuskan dengan “Universitas mandiri berbasis penelitian dan pengembangan IPTEK serta tenaga kependidikan dan nonkependidikan yang profesional”.

Mandiri artinya pada tahun 2015 Unesa menjadi universitas berbadan hukum, yakni Badan Hukum Pendidikan Tinggi (BHPT) yang memiliki organisasi yang sehat, mampu melaksanakan otonomi PT, dan mampu mengelola manajemen internal berdasarkan LRAISE.

Berbasis penelitian berarti semua kegiatan di Unesa yang meliputi kegiatan tridarma, manejemen administrasi dan keuangan, pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), pengembangan IPTEK, kebijakan menghasilkan tenaga kependidikan/non kependididkan, dalam setiap pengambilan keputusan, harus didasarkan pada suatu hasil penelitian atau kajian mutakhir, baik yang bersumber dari dalam lembaga sendiri maupun dari pihak lain agar tujuan yang telah ditetapkan dengan maksimal.
Sedangkan profesional berarti lulusan Unesa mempunyai kompetensi sesuai dengan bidang keahliannya, memiliki bekal kewirausahaan, serta memiliki kemampuan daya saing secara komparatif dan kompetitif di tingkat nasional maupun internasional.

Visi Unesa ini selaras dengan berbagai program kerja rektor Unesa 2002-2009. Prof. Haris Supratno membuat berbagai program kerja berdasarkan visi Unesa tersebut. Program kerja tersebut antara lain pembinaan etika moral, dan religi sivitas akademika; peningkatan kualitas pembelajaran berbasis TI; peningkatan sarana dan prasarana penunjang pembelajaran; peningkatan labolatorium pembelajaran; pengadaan laboratorium komputer semua fakultas dan Program pascasarjana; peningkatan SDM baik dosen maupun karyawan melalui studi lanjut S2 dan S3, dan mendorong dosen yang sudah S3 ke guru besar; pengharagaan kepada sivitas akademika berprestasi; peningkatan kebersamaan dan persaudaraan; peningkatan kerjasama dalam dan luar negeri; serta berbagai program kerja lain yang tentunya selaras dengn visi Unesa.

Bentuk Moral Bangsa dengan Pendidkan Karakter 

Pendidikan karakter bangsa di Indonesia bukanlah hal yang baru dalam tradisi pendidikan Indonesia. Doni Koesoema A dalam bukunya “Pendidikan Karakter: Strategi Mendidik Anak di Zaman Global” mengatakan bahwa pendidik modern seperti R. A Kartini, Ki Hadjar Dewantara, Soekarno, Hatta, Tan Palaka, dan Moh.Natsir telah mencoba menerapkan semangat pendidikan karakter sebagai pembentuk kepribadian dan identitas bangsa sesuai konteks dan situasi yang mereka alami. Membentuk wajah bangsa merupakan keprihatinan pokok para cendekiawan kita. Dengan caranya masing-masing, mereka mencoba dan membayangkan serta menggagas sebuah bangsa yang memiliki identitas.

Karakter berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) adalah sifat-sifat kejiwaan, akhlak, atau budi pekerti yang membedakan seseorang dengan yang lain. Elmubarok menyatakan bahwa pendidikan karakter ibarat mengukir atau memahat jiwa sedemikian rupa sehingga membentuk pribadi yang unik dan menarik, selain itu pendidikan karakter memerlukan disiplin tinggi dan pembiasaan. Ada empat ciri dasar dalam pendidikan karakter menurut Foesrster yaitu keteraturan interior di mana setiap tindakan diukur berdasarkan nilai; koherensi yang memberikan keberanian, membuat seorang teguh dalam prinsip, dan berani mengambil resiko; otonomi yaitu penghayatan aturan-aturan dari luar menjadi nilai-nilai yang berlaku bagi pribadi; dan keteguhan serta kesetiaan.

Dalam pemaparannya pada seminar di gedung Serba Guna (Gema) beberapa waktu yang lalu. Pak Haris menyatakan bahwa sebagai seorang pemuda diharapkan dapat menjadi generasi insan kamil yaitu generasi yang memiliki empat kompetensi penting yaitu kompetensi religi, emosional dan sosial, profesional, serta kinestetik.

Dalam kompetensi religi, seseorang diharapkan mampu menguasai ilmu agama serta mampu mengimplementasikannya nilai-nilai agama dalam berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa, bernegara, dan beragama. Dalam kompetensi emosional dan sosial, seseorang dituntut untuk dapat mengendalikan diri, sabar, ikhlas, dan menjadi teladan. Dalam kompetensi profesional seseorang harus mampu menguasai ilmu berdasarkan keahliannya serta mengamalkannya untuk meningkatkan kesejahteraan dirinya dan masyarakat. Dalam kompetensi kinestetik, sesorang dituntut untuk memiliki kesehatan, bukan hanya jasmani, tetapi juga rohani.

Di Unesa, pembinaan kepribadian telah menjadi program yang dicanangkan sejak tahun 1998. Dalam prosesnya pembelajaran bukan sekedar proses transformasi atau perpindahan ilmu pengetahuan dari dosen pada mahasiswa namun lebih dari itu proses pembelajaran juga meliputi pembelajaran etika, moral, dan religius.

Sewindu memimpin Unesa bukanlah waktu yang singkat. “Selama sewindu memimpin Unesa saya merasa senang karena mendapat dukungan dan dapat bekerja sama dengan semua pihak baik dari senat, dosen, karyawan, mahasiswa, dan organisasi kemahasiswaan. Dalam memimpin, saya selalu mengedepankan kebersamaan dan persaudaraan dengan dilandasi niat ibadah, keikhlasan, dan kesabaran. Dengan berbagai perasaan itulah pekerjaan tidak terasa berat dan dapat terhindar dari stress.” aku pria yang pernah menjadi dekan FBS ini.

Setelah meletakkan masa jabatannya, pria dengan dua putra ini akan lebih berkonsentrasi mengurus keluarganya. “Setelah ini saya akan lebih konsentrasi mengurus keluarga, karena saya ingin keluarga saya menjadi keluarga yang sakinah, mawardah, dan warohmah. Selama ini saya merasa kurang memperhatikan keluarga karena pekerjaan sebagai rektor dan pekerjaan berskala nasional seperti pengurus inti MRPTN (2003-2009) ketua umum SNMPT 2009, kordinator nasional pengawas ujian nasional SMA dan MA.” jelas pria yang masih melaksanakan tugas sebagai dosen ketika sewindu menjabat.

Terselip harapan Pak Haris pada rektor Unesa selanjutnya. “Semoga pimpinan baru dapat melaksanakan target-target yang belum tercapai karena kendala birokrasi; dapat membuat terobosan dan inovasi baru untuk memajukan Unesa agar Unesa lebih berkualitas dan lebih terkenal baik di tingkat nasional dan internasional; lebih menekankan pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM) yang menyeimbangkan antara penguasan Imtaq dan IPTEK; menekankan kebersamaan dan persaudaraan; mengembangkan proses pembelajaran yang berbasis Imtaq, IPTEK, pembelajaran budi pekerti dan karakter mahasiswa sehingga menjadi generasi insan kamil.” harapnya.

Tak ada gading yang tak retak dan tak ada manusia yang sempurna, begitulah kata pepatah. Prof. H. Haris Supratno pun hanyalah manusia yang tak luput dari salah. Namun janganlah kita memandang orang dengan kelemahan dan kesalahannya saja, hendaklah kita juga menghargai perjuangannya yang tak kenal lelah. Dengan tetesan keringatnyalah, kita bangga dengan Unesa yang ada di depan mata kita. Unesa sebagai kampus guru bangsa dan prima olahraga. Semoga sang penerus perjuangan bisa melanjutkan perjuangan sang pengendali L-15 ini, seperti salah satu bait pantun di bawah ini:
Merah putih warna pusaka
Berkibaran di atas angkasa
Siapa juga punya kuasa
Jujur adil demi Unesa.

(Alfanita Zuraida)