Jumat, 27 Februari 2015

Mini Library Bimbel Bahasa Inggris ALFA


“Untuk bisa membaca banyak buku diperlukan dua hal dimana uang dan waktu tidak termasuk diantaranya. Dua hal tersebut adalah gairah dan kerendahan hati bahwa kita banyak tak tahu.”
-Helvy Tiana Rosa-

Papan Nama
Tahun 2011, beberapa bulan setelah saya mendirikan Bimbel Bahasa Inggris Alfa, saya merasa ada yang kurang dengan Bimbel Bahasa Inggris saya. Saya berfikir bahwa alangkah bermanfaatnya bila saya membelikan beberapa buku yang bisa dibaca anak-anak ketika mereka datang dan menunggu waktu belajar di Bimbel Bahasa Inggris Alfa. Inilah awal mula ide Mini Library Bimbel Bahasa InggrisAlfa tercetus.

Saya masih ingat, waktu itu saya masih belum bisa membelikan anak-anak buku baru, jadi saya pergi ke Blawuran, dan mencari majalah dan buku bekas anak-anak di sana. Kalau tidak salah, saya membeli beberapa komik berbahasa Inggris Donald dan majalah Fun, saya berniat untuk menambah wawasan literasi bahasa Inggris anak-anak. Saya ingin mereka tertarik dengan buku-buku yang berbau bahasa Inggris supaya kosa kata bahasa Inggris mereka meningkat

Anak-anak sepertinya tertarik dengan buku-buku yang saya beli. Beberapa dari mereka tertarik membolak-balik buku dan membaca buku-buku itu tanpa tahu artinya. Saya dan adik saya yang juga suka membaca akhirnya bersepakat untuk mengumpulkan buku-buku kami yang berserakan di kamar dan ruangan lain di rumah. Setelah terkumpul, kami mulai memasang kartu buku dan meyampulinya. Kami sepertinya perlu banyak lagi tambahan buku-buku bacaan. Bervariasinya buku baik buku berbahasa Inggris atau berbahasa Indonesia akan menambah hasrat anak untuk membaca.

Sampai sekarang saya masih sering berburu buku-buku untuk perpustakaan saya di Kampoeng Ilmu, gudangnya buku bekas di Surabaya. Sesekali saya juga mampir ke toko buku untuk membeli buku kesukaan saya yang kemudian akan menjadi buku koleksi Mini Library. Saya dan adik saya beberapa kali ke pameran buku untuk mendapatkan buku-buku bagus dengan harga murah. Kalau buku yang kami inginkan tak ada di bursa buku murah, terpaksa kami harus rela mengeluarkan uang lebih untuk membeli buku-buku itu di toko buku. Sejauh ini, masih belum ada bantuan buku, jadi kami hanya mengandalkan rejeki lebih untuk membeli buku-buku itu.

Sekarang walaupun buku-buku di sini tak sebanyak perpustakaan yang ada di sekolah-sekolah atau perpustakaan lain, tapi buku-buku yang kami miliki dapat mengakomodir keingitahuan siswa tentang berbagai hal yang hanya mereka dapatkan dengan membaca buku. Saya juga membedakan rak antara buku-buku anak dan remaja agar saya dapat memantau apa yang anak-anak baca. Tak jarang anak-anak berusia remaja membaca buku anak-anak karena mereka tertarik atau anak-anak merengek-rengek minta ijin untuk membaca buku di rak-rak buku remaja. Semua itu menjadi bumbu ketertarikan anak-anak akan buku-buku yang mereka baca.

Saya sering berfikir dan merenung tentang hal-hal yang dapat meningkatkan minat baca anak. Untuk meningkatkan gairah anak dalam membaca, saya memberikan gantungan kunci kepada siswa yang telah membaca 20 buku dan tempat pensil bagi anak yang telah membaca 50 buku. Tak sia-sia, dengan cara ini, semangat anak-anak dalam membaca buku terus meningkat. Tak jarang, sebelum meminjam buku, mereka akan mendiskusikan isi buku pada teman-temannya untuk memastikan bahwa buku yang akan mereka baca bagus.

Untuk mengikuti beberapa kegiatan literasi di Bimbel bShasaInggris Alfa, silakan melihat gambar-gambar di bawah ini yah :)
Kartu perpustakaan untuk pinjam

Anak2 sudah membaca banyak buku

Kalau sudah baca 20 buku boleh dapat pensil atau pin

Dinda sudah baca 50 buku dan dapat tempat pensil

Mengembangkan Literasi Anak

Mengajak anak gemar membaca

Sebelum belajar wajib hukumnya pinjam buku dan membaca dulu

Diskusi dulu yah..

Main game dulu biar nggak stress













Alfanita Zuraida 
Owner of Mini Library Bimbel Bahasa Inggris Alfa

Selasa, 03 Februari 2015

Tips Liburan Fun di Rumah

Hahaha...picture taken from mobavatar.com


“Libur telah tiba, libur telah tiba, horey-horey-horey (horey), simpanlah tas dan bukumu, lupakan keluh kesahmu, libur telah tiba, libur telah tiba hatiku gembira”
(Lagu Tasya, Libur Telah Tiba)

Yah, libur telah tiba dan macet pun ada dimana-mana apalagi jalan menuju tempat wisata, namun semua tetap mau ke tempat-tempat wisata dan menghabiskan liburan bersama keluarga. Eiiits, ada yang bermuram durja, liburan tidak kemana-mana, wajah ditekuk bak kardus, muka cemberut minta es serut, ngambek karena liburah hanya diam di rumah. Wah jangan gitu dong, khan liburan di rumah juga tetap asyik. Nih ada beberapa tips buat kamu yang menghabiskan liburannya di rumah :

Baca buku

Selama sekolah atau kuliah pasti banyak tugas menumpuk membuat kita tidak punya waktu sekedar membaca buku motivasi, novel, atau buku cerita. Nah, inilah saatnya kita bersantai dan melahap semua buku kesukaan kita yang tak sempat kita baca. Kalau mau buku lebih banyak dan variatif untuk liburan, kita bisa berkunjung ke perpustakaan atau meminjam punya teman yang tanpa biaya. Kalau kita ingin beli buku, kita juga bisa ke toko buku dekat rumah. Mau yang murah, ada juga toko buku bekas. Kalau saya lebih memilih ke toko buku di Jalan Semarang. Walaupun banyak buku baru yang bajakan, saya lebih memilih buku bekas yang asli. Kalau kita pandai memilih kita pasti bisa mendapatkan harga buku murah, pokoknya kita harus pandai menawar, itu saja.

Nulis di blog

Hari gini nggak punya blog, gak gaul! Kalau ada yang belum punya blog buruan bikin deh karena blog bermanfaat banget untuk melatih kita merangkai kata-kata. Nulis di blog juga memberikan kita sejarah bahwa kita pernah ada. Lihat deh si Chairil Anwar, Kahlil Gibran, dan Shakespeare. Mereka tetap dikenang sampai saat ini karena mereka menulis apa yang ada dalam pikiran mereka. Bagi yang bercita-cita untuk jadi penulis, blog juga merupakan sarana yang tepat, siapa tahu tulisan di blog kita bagus dan ada penerbit  yang melirik seperti buku Kambing Jantannya Raditya Dika yang terbit karena blog.

Mengupgrade Kemampuan

Setelah liburan ingin tampil beda? Kelihatan lebih pintar dan kreatif dari sebelumnya. Liburan ini adalah saatnya. Berbagai bakat bisa kita kembangkan, berbagai kemampuan bisa kita pelajari. Bagi yang suka menari, tak ada salahnya ikut sanggar menari, bagi yang suka Bahasa Inggris, melihat video Bahasa Inggris dan berlatih grammar juga merupakan kegiatan yang asyik lho.

Mendesain dan Membereskan rumah

Bagi yang suka desain-mendesain, ini bisa jadi kegiatan yang menarik. Misalnya, kita ingin mengubah posisi barang-barang di kamar kita supaya kelihatan lebih fresh, kita bisa melihat-lihat majalah desain interior rumah dan mengubah tatananya sesuai keinginan kita. Tapi setelah mendesain, segera dibersihkan dan dirapikan ya, jangan sampai Mama marah karena kotor semua

Silaturahmi ke Teman dan Saudara

Silaturahmi bisa memperpanjang umur dan menambah rejeki, wah siapa yang tidak mau tuh. Jadi rencanakan kita mau bersilaturahmi ke rumah siapa ketika liburan ini. Siapa tahu ketika bersilaturahmi tiba-tiba ada rejeki menghampiri kita, dapat info beasiswa atau lowongan kerja. Siapa tahu.

So, jangan takut dibilang nggak happy karena nggak liburan di luar. Karena di rumah pun kita bisa tetap mengerjakan banyak hal. Yang penting nikmati apa yang kita punya. Liburan kita hanya bisa di rumah ya dinikmati saja.

Alfanita Zuraida



Minggu, 04 Januari 2015

Mengapa kita tak bersama?

Mengapa kita tak bersama?
Mungkin karena kita sama dalam segalanya.
Keinginan kita sama.
Jalan pikiran kita sama
Kita mempunyai cita-cita yang searah
Kepribadian yang tak jauh beda
Bukankah sepertinya kita cocok?
Tapi ternyata tidak kan?
Yang berbeda itu sebenarnya yang melengkapi
Dan,
Kita terlalu sama untuk melangkah bersama.

Kamis, 01 Januari 2015

Gadis Kecil Berambut Ikal

Gadis kecil berambut ikal bergelombang
Memandangi dirinya dalam pantulan kaca jendela
Baju indahnya tampak serasi di kulitnya yang putih
Sepatu beludru warna-warni membalut kaki

Dia berjalan, memandang keluar
Teman-temannya bermain riang, tanpa beban
Dia menunjuk dirinya dan bertanya
Tak bisakah ia pergi bersama mereka?

Gadis kecil berambut ikal menghela nafas panjang
Dia terlalu tahu jawaban itu
Tak akan pernah ada ijin untuk keluar bersama teman
Mereka terlalu kuatir
Si gadis kecil berambut ikal akan terjatuh dan terluka
Bila dia keluar dan pergi

Padahal, pergi keluar akan membuatnya banyak bertemu orang
Yang membuatnya kaya pengalaman
Berjalan keluar akan mengantarkannya ke tempat-tempat baru
Yang sarat pengetahuan

Gadis kecil berambut ikal,
Dia merasa terjebak dalam kungkungan cinta berlebihan
Cinta yang membuatnya tak dapat bergerak bebas
Oh, gadis kecil berambut ikal bergelombang
Dia merasa terjebak dalam arus putaran kasih sayang

Namun,
Tanpa si gadis kecil berambut ikal sadari,
Di seberang jalan, seorang gadis kecil berbaju lusuh tanpa kaki memandanginya iri.


Alfanita Zuraida

Kamukah itu?

Kala senja menyapa malam,
Ada semburat wajah indah di hadapanku
Wajah teduh tak bernama
Tersenyum tulus manatapku
Menggodaku dalam jerat rayu dan laku
Seolah ingin meruntuhkan keegoisanku
Menghancurkan batas iman dan nafsu

Kamukah itu?
Yang menghapus peluh-peluh dengan jemarimu
Mendengarkan rajuk dan manjaku
Mengajari makna kebebasan dalam keterikatan
Mendendangkan nada-nada kebahagiaan

Kamukah itu?
Yang menari di bawah hujan
Merasakan titik -titik kesedihan
Menangisi ketidakadilan

Kamukah itu?
Yang sedang bersenda gurau dengan waktu
Mencoba mengarungi lautan tanpaku
Mencari jejak-jejak masa lalu dalam bisu

Mungkin batas antara cinta dan kegilaan itu tipis
Sebatas benang putih kecil
Begitupun kamu,
Yang hanya sanggup menatapku
Yang mencintaiku dalam diam dan doa
Tanpa kata.


Alfanita Zuraida

Selasa, 23 Desember 2014

Berprestasi dalam sebuah Kompetisi


Kompetisi kadang dapat mengukur sampai dimana kemampuan kita. Berkompetisi tak selamanya harus berarti bersaing karena dalam sebuah kompetisi akan banyak hal yang didapat. Salah seorang teman selalu mengikuti banyak perlombaan, tujuannya bukan karena dia ingin menang, lebih dari itu karena ia ingin memperkuat rasa percaya dirinya.

Salah satu tujuan diadakannya lomba menggambar, mewarnai, dan telling story di Bimbel Bahasa Inggris ALFA, salah satunya adalah untuk meningkatkan rasa percaya diri siswa. Sebenarnya rasa percaya diri siswa selalu ditingkatkan dalam pembelajaran di dalam kelas, ini hanya sebuah ajang untuk lebih memperkenalkan siswa terhadap hal yang lebih besar dari pada yang mereka dapatkan di dalam kelas

Kompetisi yang dilakukan selama dua hari ini membuat anak-anak merasa lebih ceria, selama kompetisi mereka selalu melepas senyum. Wajah mereka tampak tegang tapi saya rasa perasaan mereka selalu senang. Bahkan salah satu murid saya Amanda, yang dijemput orang tuanya sebelum kompetisi berakhir, menggelengkan kepala tak mau pulang, setelah dibujuk barulah mau pulang.

Kompetisi gratis alias tak membayar biaya apapun ini berlangsung tanpa hambatan. Akhirnya inilah dia para juaranya. Silakan dilihat sendiri lewat foto-foto di bawah ini yah








Alfanita Zuraida
Owner of Bimbel Bahasa Inggris Alfa

SSR sebagai Solusi Pengembangan Literasi Anak




Budaya literasi anak-anak Indonesia sepertinya cukup memprihatinkan. Bagaimana tidak, sejauh pengamatan saya di beberapa sekolah, anak-anak tidak diberikan cukup waktu untuk membaca buku-buku literasi, setiap hari otak mereka hanya dijejali membaca buku-buku pelajaran.

Istirahat yang kurang dari setengah jam pun hanya dimanfaatkan anak-anak untuk jajan dan bermain di lingkungan sekolah. Tak ada waktu, niatan, bahkan keinginan untuk sekedar berkunjung ke perpustakaan sekolah dan membaca. Waktu anak-anak terlalu berharga untuk itu semua, lebih baik mengisi tenaga dengan jajan atau bermain dengan teman untuk menyegarkan pikiran.

Saat anak-anak berada dalam lingkungan sekolah dasar, sebenarnya adalah waktu yang sangat tepat untuk mengenalkan budaya literasi sejak dini. Budaya literasi yang mereka dapatkan sejak dini akan menjadi pembiasaan ketika mereka dewasa nanti. Mereka akan terbiasa membaca buku yang mungkin sangat tebal sebagai referensi ketika mereka di perguruan tinggi. Bagaimana mungkin mereka bisa membaca buku yang tebal tiba-tiba tanpa melalui sebuah pembiasaan.

Saya ingat persis ketika saya masih di sekolah dasar, ada waktu dua jam setiap minggu dalam pelajaran Bahasa Indonesia, kami diijinkan guru untuk pergi ke perpustakaan dan meminjam buku yang kami mau, kemudian membawanya ke dalam kelas untuk dibaca. Bila tidak tuntas membaca di dalam kelas, buku yang kami baca dapat dibawa pulang.

Kami yang saat itu tidak punya akses teknologi apapun selain radio dan televisi sangat tertarik pada buku. Tak jarang kami mendiskusikan buku yang telah kami baca. Bila ada buku yang menurut kami sangat menarik, kami akan dengan sabar mengantri dengan teman-teman yang lain untuk membaca buku tersebut. Kini diskusi anak tak lagi diskusi tentang literasi, diskusi mereka bergeser membicarakan gadget terbaru, acara televisi, atau berbagai macam les yang mereka ikuti.

Budaya membaca yang kian menurun, menurut saya pribadi dipengaruhi oleh beberapa hal. Yang pertama adalah adanya gempuran teknologi. Anak-anak jaman sekarang sudah sangat akrab dengan gadget. Gadjet kini bukan hanya dimiliki oleh anak menengah ke atas, anak anak dengan kemampuan ekonomi menegah ke bawah pun telah dapat menikmati gadget-gadget buatan cina yang fiturnya sama dengan gadjet canggih. Teknologi ternyata bukan hanya merenggut waktu anak-anak berinteraksi, gadget juga merenggut waktu anak-anak berliterasi.

Yang kedua adalah kesan dari orang tua bahwa anak pintar adalah anak yang mendapatkan peringkat di sekolah jadi mereka hanya memaksa anak untuk membaca buku-buku pelajaran. Buku-buku cerita yang membuka pengetahuan juga kepekaan anak pun ditinggalkan. Padahal dengan adanya buku-buku di luar buku pelajaran anak, kemampuan anak mengerti keadaan, meyelesaikan permasalahan, dan memahami sesama akan lebih terasah. Mengapa, karena sebenarnya buku-buku cerita sederhana yang mereka baca banyak disisipi pelajaran moral yang kemudian mereka serap dalam alam bawah sadar mereka.

Yang ketiga adalah kurang tersedianya waktu yang cukup untuk anak dalam budaya baca di sekolah. Tidak tersedianya waktu ini salah satunya adalah tidak adanya kurikulum untuk pengembangan literasi anak, baik dalam kemampuan membaca atau menulis literasi. Kemampuan dalam membaca dan menulis literasi hanya mereka dapatkan dalam pelajaran Bahasa Indonesia, itupun hanya mendapatkan porsi yang sangat kecil, bersaing dengan berbagai materi Bahasa Indonesia yang lain.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah di atas. Salah satu solusi yang ingin saya jabarkan di sini adalah SSR atau Sustained Silent Reading. Ini merupakan sebuah metode membaca rekreasi bagi anak-anak ketika berada di sekolah. Dalam Sustained Silent Reading, anak-anak dapat memilih sendiri buku yang ingin mereka baca. Waktunya pun dibatasi hanya beberapa menit, bila waktu berkonsentrasi anak tak lebih dari 15 menit, membaca buku 10 menit pun jadi. Anak-anak dapat membaca buku sendiri atau berpasangan.

Tidak ada tes, laporan, atau rangkuman buku yang mereka telah mereka baca. Anak-anak pun tidak harus menyelesaikan buku yang mereka baca, mereka dapat berganti buku ketika mereka berfikir bahwa buku tersebut kurang menarik atau tidak sesuai dengan bacaan yang mereka inginkan. Mereka membaca dengan situasi menyenangkan, tanpa paksaan.

Buku yang mudah dan menarik adalah salah satu hal penting dalam SSR, apalagi untuk anak-anak dengan kelas rendah di sekolah dasar. Untuk anak-anak dengan kelas lebih tinggi dapat membaca buku sesuai dengan kemampuan mereka, namun mereka juga tidak dilarang ketika mereka ingin membaca buku yang lebih mudah. Saya jadi berfikir bagaimana bila anak-anak Indonesia sudah terlatih membaca sejak dini, pasti sepuluh tahun mendatang Indonesia tidak lagi menempati urutan terbawah dalam kemampuan membaca.

Menempatkan perpustakaan kecil atau mini library di setiap kelas merupakan sebuah pilihan yang bijak. Buku dapat didapatkan dari setiap siswa. Bila dalam satu kelas ada 30 anak, maka akan ada 30 judul buku yang berbeda. Buku-buku itulah yang kemudian dibaca anak dalam satu kelas. Bila telah menyelesaikan 30 buku, buku-buku tersebut dapat ditukar dengan kelas yang lain. Kelas bawah dapat ditukar kelas bawah, begitu pula dengan kelas atas. Jadi tak ada yang mahal dalam SSR, hanya sedikit meluangkan waktu anak untuk membaca buku yang efeknya akan luar biasa ketika mereka beranjak dewasa.

Budaya membaca dan menulis literasi bukanlah budaya instan yang langsung diperoleh, namun ini adalah sebuah proses melalui pembiasaan. Tak akan pernah ada orang dewasa yang menyukai buku ketika buku-buku tersebut tidak diperkenalkan kepada mereka sejak dini. Tak ada yang terlambat untuk membuat SSR, sekarang atau tidak sama sekali. 

Alfanita Zuraida