Kamis, 02 Februari 2012

Wajah Tak Bernama

February, 2nd, 2012

Empat tahun itu
Seharusnya ku lalui tanpa kehadiranmu
Empat tahun itu
Seharusnya bisa kulalui dengan biasa saja
Empat tahun itu
Seharusnya pikiranku kuberikan pada inginku
Empat tahun itu
Ah, seharusnya.......

Menjelang subuh ini, di tengah sepi, kurefleksikan perjalanan hidupku. Mengenang saat-saat mendamba asa, mengurai makna dalam cita. Haru, sesal, cerita, pengalaman, indah, duka mengeruak satu-satu memenuhi egoku. Di jalan-jalan, hujan-hujan, jendela-jendela kutemukan seraut wajah tak bernama. Dulu, ia memenuhi kalbuku. Mengajak pikiranku berjalan-jalan ke awan. Mengelilingi teluk persia. Singgah di Antariksa. Sayang, sampai di sana aku menemukan jalan sulit untuk kembali.
Empat tahun itu seraut wajah tak bernama menggoda egoku, mengajakku berlomba menemukan sesuatu, menyingkap rahasia alam yang dulu pernah ku kenal. Asa, cita, ingin tampak terpinggirkan oleh satu angan sesosok wajah tak bernama. Wajah itu, yang tak bernama itu membuat sesalku kini. Seharusnya, ah harus kukatakan. Seharusnya dulu kau hanya sekebat bayangan dalam indah. Tak perlu menguraimu dalam prosa-prosa penuh cerita, atau mengucapmu dalam puisi-puisi tak bernama. Cukup engkau menjadi cahaya. Terlihat, namun tak terasa. Seharusnya engkau hanya menjadi roda, yang bergerak dan hilang di hadapan wajah semu. Seharusnya engkau hanya menjadi lukisan yang tergantung dalam rumah mewah, hanya menatapmu saja. Seharusnya engkau hanya menjadi patung cleopatra,yang tak ada pikir untuk menjadikanmu ada. Ah, seharusnya lagi.
Kini, lagi, aku kembali meronce asa-asa gemilang yang aku ingini. Menyibak ragu-ragu yang bersembunyi di tengah sepi ketika hanya tokek yang berbunyi. Jarum ini, panjang ini, perjalanan ini, ah ternyata masih panjang juga. Kuhentikan cerita. Cukup sampai di sini. Kuucapkan terima kasih pada sepi, terima kasih pada tokek yang dengan setia menemani. Ku ucapkan terima kasih pada ingin, rasa, kata, warna, indah, dan duka, dan tentu saja dia. Semoga berbahagia aku, kamu, dia selamanya.

Dalam rasa yang memuncah
Ie-th@

Tidak ada komentar:

Posting Komentar