Rabu, 23 Mei 2012

Esensi Sebuah Pernikahan

Whoooaaaa akhirnya setelah luntang-luntung di keramaian dengan ketidakjelasan tujuan..aku bisa ada di depan Pinky untuk mencurahkan segala isi hati. Sebelumnya, ternyata aku adalah orang dengan perpaduan darah ekstrovert dan introvert. Di satu sisi aku suka sekali berkomunikasi, bercanda, bahkan mungkin berkenalan dengan banyak orang, tetapi di sisi lain ternyata aku juga suka kesendirian seperti ini, mengetik dan mencurahkan segala isi hati seperti ini, tanpa satu orangpun mengganggu.  

1.Esensi Pernikahan 
Setelah membaca buku panduan pernikahan, menonton film tentang pernikahan, bahkan membaca novel bertema pernikahan (sampai-sampai anak-anak kos sudah hafal banget apa yang aku suka), satu hal yang pasti aku masih belum bisa menemukan esensi sebuah pernikahan itu apa? Apakah itu keikhlasan, pengorbanan, cinta, ketulusan atau memang itu semua kemudian diramu dan menjadi esensi indah tentang pernikahan. Ada hal-hal yang memang bertolak belakang dari buku panduan pernikahan yang kubaca dibanding isi cerita novel atau drama korea tentang pernikahan. Dalam panduan pernikahan sepertinya tidak ada masalah berarti yang terjadi dalam sebuah pernikahan. Ada masalah tapi akan dijelaskan bahwa faktor komunikasi akan menjadi jalan keluar terbaik. Tidak menyalahkan karena memang seperti itu. Namun dalam isi cerita novel atau drama korea tentang pernikahan, ternyata konflik dan tantangan yang terjadi dalam pernikahan begitu banyak. Dan parahnya lagi sepertinya pikiranku ini lebih ikut pada isi cerita novel atau drama korea tentang pernikahan dibandingkan buku panduan tentang pernikahan. Lagi, tidak menyalahkan karena panduan sepertinya hanya berupa teori, namun isi cerita novel atau drama korea tentang pernikahan seperti memang terlihat lebih nyata.  

2.Menurutku? Walaupun aku masih belum jelas mengetahui tentang esensi sebuah pernikahan tapi yang pasti sebuah pernikahan itu adalah sebuah jalan yang akan lebih mendekatkan seorang hamba dengan Tuhannya. Bukankah menikah itu adalah sunnah Rasul yang bila kita bisa melakukannya berarti menggenapi separuh dien? Tetapi kembali lagi, menikah bukan berarti hidup kita selesai setelah ijab qobul terucap, lebih dari itu. Bahkan hidup kita baru dimulai ketika ijab qobul terucap. Pikirku bila kita menikah, apalagi seorang wanita, berari kita harus siap dengan hal-hal berikut salah satunya adalah pindah ke rumah mertua. Salah satu hal yang mungkin akan dilakukan wanita adalah pindah ke rumah mertua setelah menikah, bukan tidak siap. Tapi rasanya masih terlalu berat untuk meninggalkan kenyamanan di rumah sendiri. Kamar tidur nyaman yang sangat privacy sekali, kenyamanan di rumah, kehangatan keluarga. Apa aku akan mendapatkan hal seperti ini ketika menikah dan tinggal bersama mertua? Pikiran itu masih terngiang di kupingku. Kemudian mungkin meninggalkan beberapa pekerjaan. Nggak mungkin khan kalau suami kita sibuk kita juga ikut-ikutan sibuk. Suami sibuk, sitri sibuk akan jadi sperti apa pernikahan itu? Paling tidak sepertinya harus mulai mempersiapkan diri untuk hal-hal seperti itu.  

3.And? Sepertinya aku sudah mau menikah saja heheh. Menikah masih ada dalam bayanganku. Istilahnya aku masih membaca banyak teori, tapi semoga aku bisa memraktekkannya segera. Amiin.  

Salam 
-Ie-th@-
 130512

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar